8 September 2016

Kewalahan Hadapi Permintaan, LEGO Meminta Jangan Beli Produknya

Pada tahun 2003, LEGO hampir saja bangkrut. Secara perlahan, kondisinya berubah dan bisnis berjalan lancar, terlalu lancar sehingga memaksa perusahaan tersebut melakukan sesuatu yang tidak biasanya yaitu meminta banyak orang untuk tidak membeli produknya. LEGO melakukan hal tersebut karena kewalahan memenuhi permintaan yang terlalu tinggi.

LEGO
Sumber gambar wikipedia.org

"Kami tentu saja gembira tentang [keberhasilan LEGO], tetapi permintaan yang tinggi juga menempatkan beban pada pabrik-pabrik kami. Kita merasa perlu untuk berinvestasi, membangun ruang yang lebih luas untuk bernapas." Kata John Goodwin seorang pejabat tinggi di LEGO. Selain membangun pabrik yang besar di Cina, LEGO juga melebarkan sayapnya di Meksiko dan Hungaria serta tentu saja di Denmark. Hal tersebut menyebabkan hampir 16.000 orang telah bergabung dengan perusahaan mainan yang telah memulai bisnisnya sejak tahun 1949.

Tidak banyak perusahaan seperti LEGO yang mau mengorbankan keuntungan jangka pendek untuk meraih tujuan utama jangka panjang. Hal tersebut disebabkan oleh karena LEGO adalah perusahaan keluarga bahkan mereka tidak menyewa orang lain untuk menangani bisnisnya hingga tahun 2004 dengan menunjuk Jørgen Vig Knudstorp sebagai CEO (Chief Executive Officer).

LEGO adalah gabungan dua kata berbahasa Denmark "leg godt" yang dapat berarti "bermain dengan baik" dalam bahasa Indonesia. LEGO juga lebih senang jika pelanggannya menyebut mereka dengan sebutan "LEGO bricks".
Tidak ada komentar: